السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
← Semua artikelSajadah & Ibadah

Cara Merawat Sajadah agar Awet dan Tetap Suci

Cara Merawat Sajadah agar Awet dan Tetap Suci
Daftar isi
  1. Kenali bahan sebelum mencuci
  2. Mencuci di rumah, langkah demi langkah
  3. Menjemur yang benar
  4. Mencegah bau apek
  5. Menyimpan dengan benar
  6. Ketika sajadah terkena najis
  7. Seberapa sering sebaiknya dicuci
  8. Cara merawat sajadah lipat untuk bepergian
  9. Kesalahan yang paling sering terjadi
  10. Merawat sajadah bersama perlengkapan salat lain
  11. Menghilangkan bau tanpa merusak bahan
  12. Merawat sajadah anak
  13. Sajadah berbulu, rajut, dan bahan khusus
  14. Kapan sebaiknya mengganti sajadah
  15. Rutinitas mingguan, bulanan, dan tahunan
  16. Pertanyaan yang sering muncul
  17. Satu saran terakhir

Cara merawat sajadah yang paling aman adalah mengenali bahannya dulu, mencuci terpisah dari pakaian lain, menghindari mesin pengering, menjemur di tempat teduh yang berangin, dan memastikan sajadah benar-benar kering sebelum dilipat. Kalau ada najis yang menempel, ada langkah khusus yang berbeda dari sekadar mencuci.

Sajadah adalah barang yang dipakai tiap hari, bersentuhan dengan dahi dan telapak kaki, dan jarang dicuci karena merasa sajadah tidak kelihatan kotor. Padahal debu, keringat, dan lembap menumpuk perlahan. Perawatan yang tepat membuat sajadah lebih awet, lebih wangi, dan lebih nyaman dipakai.

Kenali bahan sebelum mencuci

Langkah pertama selalu sama, yaitu melihat bahan. Popmama menjelaskan bahwa sajadah sutra atau kain lembut lain sebaiknya dibersihkan dengan dry cleaning karena air dan deterjen berisiko merusaknya. Sajadah polyester perawatannya lebih sederhana, sedangkan beludru perlu dicuci dengan hati-hati supaya teksturnya tidak rusak.

Kalau label perawatan masih ada, ikuti. Kalau sudah hilang, anggap saja sajadah itu lebih rapuh dari kelihatannya dan pilih cara yang paling lembut. Mencoba satu cara yang terlalu keras dan merusak sajadah mahal tidak ada gunanya.

Mencuci di rumah, langkah demi langkah

Untuk sajadah yang aman dicuci, mulailah dengan memisahkannya dari pakaian lain, terutama kalau bahannya beludru atau berwarna cerah karena warnanya mudah luntur. Cuci dengan air bersuhu biasa dan deterjen secukupnya. Kalau ada noda yang membandel, oleskan pembersih noda tipis, lalu gosok perlahan dengan sikat berbulu lembut. Pastikan pembersih noda tidak merusak warna kain dengan mencobanya dulu di bagian tersembunyi.

Antara menyarankan agar sajadah dibilas dengan tangan tanpa diperas terlalu keras, serta tidak memakai mesin cuci atau mesin pengering karena bisa merusak serat. Kalau kotorannya sulit hilang, rendam sebentar dengan air dingin dan sabun sambil ditekan pelan supaya air merata, lalu bilas sampai bersih.

Menjemur yang benar

Bentangkan atau gantung sajadah di tempat yang berangin dan sirkulasi udaranya bagus. Hindari terik matahari langsung karena bisa membuat bahan cepat lapuk dan warnanya memudar. Balik sajadah di tengah proses jemur supaya kedua sisinya kering merata.

Jangan lipat sajadah selagi masih lembap, bahkan kalau permukaannya sudah terasa kering. Bagian dalam yang tebal sering menahan air lebih lama. Cara termudah mengeceknya adalah menekan bagian tengah dengan telapak tangan. Kalau masih terasa dingin, berarti belum kering.

Mencegah bau apek

Bau apek hampir selalu berasal dari lembap yang terperangkap, bukan dari kurang wangi. Setelah dipakai beberapa hari, angin-anginkan sajadah di tempat teduh selama beberapa jam. Kalau rumahmu lembap, lakukan lebih sering, terutama di musim hujan.

Pewangi pakaian boleh dipakai secukupnya, tetapi jangan berlebihan karena aroma yang kuat mengganggu saat salat. Yang paling penting tetap kering dan bersih. Kalau sajadah sudah berbau, cuci dulu dan keringkan sampai benar-benar kering. Menyemprot parfum di atas bau apek hanya akan menutupinya sebentar.

Menyimpan dengan benar

Popmama merangkum beberapa prinsip penyimpanan perlengkapan salat yang masuk akal. Keringkan sepenuhnya di tempat teduh sebelum disimpan, lipat dengan rapi, simpan di tempat kering dengan sirkulasi udara yang baik, dan pisahkan dari pakaian harian. Silica gel atau pengharum lemari bisa ditambahkan, dan untuk bepergian gunakan pouch atau tas khusus.

Kalau sajadahmu punya motif atau lapisan yang mudah berkerut, gulung dengan longgar daripada dilipat tajam. Lipatan yang terlalu kencang dalam jangka panjang bisa meninggalkan garis permanen.

Ketika sajadah terkena najis

Ini bagian yang membedakan sajadah dari barang lain. Kalau ada najis yang menempel, mencuci seperti biasa tidak selalu cukup menurut aturan fikih. NU Online menjelaskan cara menyucikan najis pada kasur atau karpet, dan prinsipnya relevan untuk sajadah.

Najis yang masih berwujud, yaitu masih tampak warna, bau, atau rasanya, harus dihilangkan sifatnya terlebih dahulu dengan membersihkan hingga ketiganya tidak ada. Setelah itu, area bekas najis disucikan dengan menyiramkan air suci. Untuk najis jenis tertentu, misalnya air kencing bayi laki-laki di bawah dua tahun yang hanya minum ASI, caranya lebih ringan. Aturan ini punya rincian, jadi kalau ragu soal jenis najis dan cara menyucikannya, tanyakan kepada ustadz atau guru yang kamu percaya. Panduan di sini bukan fatwa.

Seberapa sering sebaiknya dicuci

Tidak ada angka baku yang cocok untuk semua orang. Sajadah di rumah yang dipakai tiap hari sebaiknya dibersihkan permukaannya secara berkala, misalnya dikibas, dijemur sebentar, atau divakum ringan. Pencucian menyeluruh bisa dilakukan beberapa bulan sekali, atau lebih sering kalau ada anak kecil, hewan peliharaan, atau musim hujan.

Sajadah yang dipakai di masjid atau di luar rumah lebih cepat kotor, jadi layak dicuci lebih sering. Perhatikan juga kalau sajadah mulai berbau, terasa lengket, atau punya noda, itu tanda sudah waktunya dibersihkan, bukan menunggu jadwal.

Cara merawat sajadah lipat untuk bepergian

Sajadah travel biasanya tipis dan sering tersimpan di tas, jadi mudah lembap dan berbau. Setelah pulang bepergian, langsung keluarkan, angin-anginkan, dan cuci kalau perlu. Simpan di pouch yang kering, dan jangan menyimpan sajadah bersama botol minum atau barang basah.

Kalau kamu menyiapkan perlengkapan untuk perjalanan jauh, baca juga checklist perlengkapan umroh untuk muslimah, karena sajadah lipat termasuk barang yang paling sering dibawa.

Kesalahan yang paling sering terjadi

Kesalahan pertama adalah mencuci sajadah bersama pakaian di mesin cuci, padahal bahan sajadah bisa rusak dan warnanya luntur ke pakaian lain. Kesalahan kedua adalah menjemur di bawah matahari terik terlalu lama sampai warnanya pudar. Kesalahan ketiga adalah melipat sajadah yang belum kering sehingga berjamur dan berbau.

Kesalahan keempat adalah membiarkan noda menumpuk karena merasa sajadah tidak kotor. Noda baru jauh lebih mudah dibersihkan daripada noda lama. Kesalahan kelima adalah lupa memperhatikan kesucian, padahal sajadah adalah alas salat. Biasakan memeriksa sebelum dipakai, terutama kalau ada anak kecil di rumah.

Merawat sajadah bersama perlengkapan salat lain

Sajadah jarang berdiri sendiri. Biasanya ia punya teman, yaitu mukena, sarung, dan Al-Qur’an. Merawat semuanya dalam satu rutinitas akan lebih mudah. Siapkan satu rak atau lemari kecil khusus perlengkapan ibadah, cuci mukena dan sajadah dalam waktu berdekatan, lalu simpan bersama setelah benar-benar kering.

Kalau kamu menyiapkan mukena untuk Ramadan, baca juga panduan mukena untuk tarawih. Dan untuk perawatan pakaian lain seperti gamis dan hijab, ada panduan merawat gamis dan hijab yang bisa dipakai bersamaan.

Menghilangkan bau tanpa merusak bahan

Kalau sajadah sudah terlanjur berbau, ada beberapa cara aman yang bisa dicoba sebelum mencucinya. Angin-anginkan di tempat teduh selama beberapa jam sampai sehari penuh. Untuk bau yang masih bertahan, taburkan sedikit soda kue tipis-tipis di permukaan, diamkan beberapa jam, lalu kibaskan atau vakum. Coba dulu di bagian kecil yang tersembunyi untuk memastikan warna tidak berubah.

Kalau bau tidak hilang juga, berarti sumbernya sudah meresap ke bagian dalam, dan pencucian menyeluruh diperlukan. Jangan menyemprot parfum karena itu hanya menutupi sebentar dan aromanya bisa mengganggu kekhusyukan.

Merawat sajadah anak

Sajadah anak lebih sering terkena tumpahan, remah, atau tapak kaki yang kotor. Pilih bahan yang mudah dilap dan dicuci, dan siapkan sajadah cadangan supaya yang kotor bisa dicuci tanpa menghentikan kebiasaan salat anak. Ajarkan anak untuk membersihkan kaki sebelum menginjak sajadah.

Kalau sajadah anak terkena makanan atau minuman, bersihkan segera dengan kain lembap supaya noda tidak meresap. Jangan menunda sampai kering karena noda lama jauh lebih sulit dihilangkan.

Sajadah berbulu, rajut, dan bahan khusus

Sajadah dengan permukaan berbulu atau rajut punya tantangan sendiri karena seratnya mudah menyimpan debu dan rontok. Kibaskan secara rutin dan vakum dengan hati-hati. Hindari menyikat keras karena bisa merusak tekstur.

Untuk pencucian, ikuti label dengan ketat. Sajadah dengan lapisan karet di bawahnya bisa rusak kalau dicuci dengan air panas atau dikeringkan dengan panas tinggi. Kalau label tidak ada dan kamu ragu, pilih laundry yang paham bahan karpet atau kain halus.

Kapan sebaiknya mengganti sajadah

Ganti sajadah kalau permukaannya sudah menipis dan keras, lapisan alasnya sobek sehingga sajadah bergeser, warna pudar parah dengan noda yang tidak bisa hilang, atau bau yang kembali meski sudah dicuci beberapa kali. Sajadah yang rusak lebih banyak mengganggu daripada membantu.

Sajadah lama yang masih layak bisa disumbangkan ke musala atau masjid kecil setelah dicuci bersih. Kalau sudah terlalu rusak, sebaiknya diganti dan disimpan dengan hormat, jangan dibuang sembarangan.

Rutinitas mingguan, bulanan, dan tahunan

Supaya perawatan tidak terasa berat, bagi menjadi tiga ritme. Setiap minggu, kibaskan sajadah dan angin-anginkan sebentar di tempat teduh. Setiap bulan, periksa apakah ada noda atau bau, dan bersihkan bagian yang kotor. Beberapa bulan sekali atau saat dibutuhkan, cuci menyeluruh sesuai bahan, lalu jemur sampai benar-benar kering.

Setahun sekali, periksa kondisi keseluruhan. Lihat apakah permukaannya masih empuk, alasnya masih menempel, dan jahitan tepinya masih kuat. Dengan rutinitas sederhana ini, kamu tidak perlu mengingat banyak aturan, dan sajadahmu selalu dalam kondisi yang layak untuk dipakai beribadah.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah sajadah boleh dicuci dengan mesin cuci?

Umumnya tidak disarankan karena bisa merusak serat dan melunturkan warna. Cuci dengan tangan dan ikuti label perawatan.

Bagaimana kalau sajadah berbau apek?

Cuci dan keringkan sampai benar-benar kering, lalu angin-anginkan. Jangan hanya menyemprotkan pewangi karena baunya akan kembali.

Bolehkah sajadah dijemur di bawah matahari?

Boleh sebentar, tetapi terik matahari yang terlalu lama membuat bahan cepat lapuk dan warna pudar. Tempat teduh yang berangin lebih aman.

Satu saran terakhir

Perawatan sajadah tidak perlu rumit. Cukup tiga kebiasaan: angin-anginkan rutin, cuci sesuai bahan, dan jangan pernah menyimpan dalam keadaan lembap. Kalau tiga hal itu terjaga, sajadahmu akan awet bertahun-tahun.

Kalau sedang mencari sajadah baru, baca dulu cara memilih sajadah yang nyaman, atau lihat kategori Sajadah dan Ibadah.

Rekomendasi terkait

Tautan belanja bisa berupa tautan afiliasi. Cek ulang harga dan ketersediaan di marketplace sebelum membeli.

Mau dapat kabar artikel dan rekomendasi baru?

Gabung daftar broadcast WhatsApp MuslimahGrosir. Kami kirim info artikel baru, rekomendasi pilihan, dan pengingat ibadah. Bisa berhenti kapan saja.

Gabung via WhatsApp

Masih bingung memilih?

Ceritakan kebutuhanmu, nanti kami bantu arahkan.

Tanya via WhatsApp